Kamis, 25 Februari 2010

CINTA OR PACARAN

CINTA

Menurut Josh McDowell (1996), kebanyakan remaja tidak memahami makna cinta (love) dan sekedar menafsirkannya menurut pandangan-pandangan yang sedang populer. Pada kehidupan modern, berkembang pandangan-pandangan seperti:

  • Cinta itu sama dengan nafsu birahi
  • Cinta itu sama dengan romantisme
  • Cinta itu sama dengan hubungan bergairah antara laki-laki dengan perempuan dalam kehidupan bersama untuk jangka pendek.
  • Cinta itu sama dengan seks

Hubungan cinta antara pria dan wanita dalam kehidupan remaja sering hanya diartikan seperti itu. Hal itu semakin menjadi-jadi ketika kebudayaan populer (termasuk musik, film, dst) memberikan gambaran-gambaran yang seolah meneguhkan kebenarannya. Konsep cinta yang seperti itu yang sering membuat remaja terjatuh dalam dosa-dosa kenajisan dan perzinahan.

PACARAN

Ketika konsep tentang cinta tidak kudus maka remaja akan terjerumus dalam gaya berpacaran yang tidak kudus pula. Pada dasarnya perilaku manusia selalu bertolak dari pemikiran atau gagasan tertentu. Ketika gagasan itu tidak benar maka perilakunya juga tidak benar.

Sekarang sering dijumpai remaja melakukan pacaran yang berbasis aktifitas seksual, mulai dari pelukan ringan sampai hubungan seksual yang beresiko kehamilan di luar nikah. Josh McDowell (1996, hal 126) mengklasifikasi perilaku seksual dalam pacaran remaja sebagai berikut (dari yang ringan sampai yang berat):

  • Necking
    • Holding hands
    • Hugging
    • Casual kissing (peck kissing)
    • Prolonged kissing
  • Petting
    • French kissing (including last stages of necking – ears, neck, etc)
    • Breast covered
    • Breast bared
  • Heavy Petting
    • Genitals covered
    • Genitals bared
    • Oral sex
    • Genital to genital
    • Intercourse

MASALAH EMOSIONAL!!!!!

MENINGGINYA EMOSI

Psikolog Elzabeth Hurlock (1997) mengatakan bahwa masa remaja ditandai dengan meningginya emosi. Perasaan remaja tidak stabil. Di satu sisi remaja mudah terbakar dan di sisi lain mudah terluka. Karena itu remaja mudah mengalami berbagai-bagai masalah emosional.

KESEPIAN

Beberapa remaja merasa kesepian atau kesendirian. Ia merasa tidak mempunyai siapa-siapa di tengah hiruk-pikuk kehidupan ini. Menurut Josh McDowell (1996, hal 24) ada beberapa penyebab rasa kesendirian yang terjadi pada remaja yaitu:

  • Gambar diri yang buruk. Menilai diri sendiri sebagai serba negative, buruk, jelek.
  • Kurang hangatnya hubungan-hubungan dalam keluarga.
  • Kehidupan masyarakat yang individualistis, terutama di kota-kota besar.
  • Ketakutan.
  • Adanya permusuhan dengan orang lain.
  • Ketidakmampuan berkomunikasi dengan orang lain/teman.

Dalam buku Loneliness: The Search for Intimacy, Ellison sebagaimana dikutip McDowell (1996) ada beberapa penyebab terjadinya rasa kesepian/kesendirian seperti

  • Kesedihan
  • Merasa ditak dibutuhkan
  • Keterpisahan secara fisik
  • Tertolak/ditolak
  • Sakit jasmani
  • Kesibukan
  • Ditinggal mati teman/sahabat/keluarga
  • Hubungan yang retak

KECEMASAN

Kecemasan berlebihan juga sering menyerang remaja. Menurut Josh McDowell (1996) ada beberapa penyebab terjadinya rasa cemas itu:

  • Adanya ancaman dari teman atau orang lain yang memusuhi
  • Konflik
  • Ketakutan atau adanya sesuatu yang menakutkan
  • Kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi

RASA BERSALAH BERLEBIHAN

Kondisi emosi yang tidak stabil menyebabkan remaja sering merasa bersalah secara berlebihan. Menurut Josh McDowell (1996) ada beberapa penyebab rasa bersalah yaitu:

  • Perasaan rendah diri atau minder
  • Tekanan social
  • Rasa berdosa di hadapan Tuhan karena telah melakukan dosa tertentu.

KEMARAHAN

Emosi remaja sering meledak-ledak. Menurut Josh McDowell (1996) ada beberapa penyebab kemarahan remaja yaitu:

  • Frustasi
  • Dilukai
  • Diperlakukan tidak adil
  • Rasa takut

DEPRESI

Depresi sering diartikan sebagai kondisi jiwa yang diliputi kesedihan berlebihan. Namun psikolog lebih melihat depresi sebagai gejala disorder psikoneurotik atau psikotik. Tanda-tanda depresi antara lain kesedihan, ketidakaktifan, sulit berpikir, sulit berkonsentrasi, perubahan (naik atau turunnya) nafsu makan, sulit tidur, rasa putus asa, dan terkadang rasa ingin bunuh diri.

Ahli psikiatri bernama John White sebagaimana dikutip Josh McDowell (1996) mengklasifikasi depresi (depressive illness) sebagai berikut:

  • Primary depression
    • Bipolar, kondisi mood berubah-ubah dari sedih ke senang dan sebaliknya
    • Unipolar, kondisi mood yang tidak wajar
  • Sekondary depression, merupakan gejala sakit kejiwaan oleh sebab sakit mental atau sakit jasmani

Menurut Josh McDowell (1996) ada beberapa penyebab depresi yang dialami oleh remaja yaitu:

  • Penyebab-penyebab fisik seperti sakit, kecanduan obat, menstruasi, dll
  • Adanya penolakan oleh orangtua
  • Dilecehkan
  • Pikiran negative
  • Tekanan kehidupan
  • Kemarahan
  • Rasa bersalah berlebihan.

Rabu, 24 Februari 2010

SIAPAKAH REMAJA????

PERKEMBANGAN MANUSIA

Dalam Concise Oxford English Dictionary disebut bahwa remaja (teenager) is a person aged between 13 and 18 years. Sedangkan masyarakat umumnya meyebut masa remaja sebagai usia anak SMP atau SMA.

Masa remaja memang menunjuk pada sebuah rentang waktu dalam perjalanan hidup manusia. Karena itu perlu dipahami dalam konteks keseluruhan rentang waktu tersebut. Psikolog Elizabeth B. Hurlock (1997), membagi tahapan-tahapan perkembangan manusia sebagai berikut.

  • Periode pre-natal (sejak terjadi pembuahan sampai pada kelahiran bayi)
  • Masa bayi baru lahir/neonatal
    • Periode partunate (sejak saat kelahiran sampai pada 15-30 menit sesudah kelahiran)
    • Periode neonate (sejak pemotongan dan pengikatan tali pusar sampai akhir minggu kedua pascakelahiran)
  • Masa bayi (masa hidup 2 tahun pertama sejak bayi lahir dua minggu)
  • Masa kanak-kanak awal/young children (usia 2 tahun sampai 6 tahun)
  • Masa kanak-kanak akhir/late childhold (usia 6 tahun sampai usia 13-14 tahun)
  • Masa puber/”usia kedewasaan seksual”
    • Untuk perempuan (usia 11 tahun sampai 15 tahun)
    • Untuk laki-laki (usia 12 tahun sampai 16 tahun)
  • Masa remaja/teenager/adolescence
    • Masa remaja awal (usia 13 tahun sampai usia 16 tahun) – tumpang tindih dengan masa puber
    • Masa remaja akhir (usia 16 atau 17 tahun samapai 18 tahun/usia dewasa secara hukum)
  • Usia dewasa dini (usia 18 tahun sampai 40 tahun)
  • Usia dewasa madya (usia 40 tahun sampai 60 tahun)
  • Usia lanjut
    • Masa usia lanjut dini (usia 60 tahun sampai 70 tahun)
    • Masa usia lanjut (usia 70 tahun sampai akhir hayat)

CIRI PSIKOLOGIS MASA REMAJA

Masyarakat biasa memberi label khusus bagi remaja oleh sebab karakteristik perkembangan psikologis mereka yang khas. Apalagi remaja identik dengan masa SMA yang merupakan periode tersendiri yang menentukan seseorang untuk menapaki masa depannya.

Para ahli sepakat bahwa masa remaja memang ditengarai dengan kondisi perkembangan psikologis yang unik yang membedakan dengan masa-masa sebelum dan sesudahnya. Menurut psikolog Elizabeth B. Hurlock (1997, hal 207-212), ciri-ciri masa remaja adalah sebagai berikut:

  • Masa remaja adalah masa meningginya emosi manusia
  • Masa remaja adalah masa perubahan fisik yang drastis
  • Masa remaja adalah masa perubahan minat, perilaku, dan nilai-nilai yang terkait
  • Masa remaja adalah masa ambivalen, di satu sisi ingin bebas, di sisi lain masih takut untuk bertanggungjawab atas hidupnya sendiri
  • Masa remaja adalah masa mencari identitas (masa krisis identitas diri)
  • Masa remaja adalah masa yang penuh cita yang tidak realistik

PERUBAHAN-PERUBAHAN MENDATANGKAN MASALAH

Perubahan berupa meningginya emosi pada masa remaja seringkali mendatangkan berbagai masalah. Inilah yang menyebabkan mereka tidak stabil pada saat harus menghadapi tantangan. Masa remaja dikenal sebagai masa storm and stress (masa badai dan tekanan).

Perubahan fisik juga menyebabkan berbagai masalah. Kematangan seksual misalnya, mendorong gairah seksual yang luar biasa yang sering tidak terkendalikan. Remaja juga sensitif dengan masalah fisik yang berkaitan dengan pencitraan diri mereka. Misalnya masalah jerawat, bisa membuat remaja mengalami stress.

Perubahan sosial di mana remaja tidak lagi dianggap kanak-kanak namun juga belum dianggap layak sebagai orang dewasa menimbulkan berbagai masalah. Mereka mengalami krisis identitas.

LINGKUNGAN PERGAULAN

Faktor lingkungan pergaulan sangat menentukan perkembangan seorang remaja. Bila mempunyai teman-teman yang tidak baik, seorang remaja bisa dengan mudah terpengaruh. Menurut psikolog Elizabeth B. Hurlock (1997, hal 215), lingkungan sosial remaja dapat dikategorikan sebagai berikut

  • Teman dekat, sahabat, kawan karib.
  • Kelompok kecil (clique)
  • Kelompok besar
  • Kelompok teroganisir (di sekolah atau di masyarakat, termasuk kelompok kerohanian)
  • Kelompok geng

Menurut Friedman dalam Elizabeth B. Hurlock (1997, hal 215), kehidupan di dalam geng (geng jalanan) biasanya diwarnai dengan ketaatan para anggota geng terhadap kekuasaan para pemimpin geng tersebut. Tidak jarang kekerasan diterapkan untuk mengendalikan ketaatan total para pengikut geng itu.

MINAT-MINAT REMAJA

Seiring dengan perkembangan/perubahan emosi, fisik, dan sosialnya, remaja mempunyai minat-minat yang khas. Sebagai contoh adalah minat pada olahraga dan musik, terjadi karena perkembangan fisik remaja sangat pesat dan remaja sangat ingin mengekspresikan diri untuk kebebasan dan untuk mendapatkan pengakuan orang.

Menurut Elizabeth B. Hurlock (1997), minat-minat remaja mencakup minat-minat yang sifatnya positif dan negatif sebagai berikut.

  • Minat pada permainan.
  • Minat pada olahraga.
  • Minat pada kegiatan bersantai.
  • Minat pada kegiatan bepergian (traveling)
  • Minat pada kegiatan hobi populer
  • Minat pada musik, dansa, disko
  • Minat pada kegiatan membaca
  • Minat pada kegiatan menonton (film, konser musik, dll)
  • Minat pada aktivitas melamun
  • Minat pada kegiatan pesta
  • Minat pada kegiatan percakapan
  • Minat pada kegiatan menolong orang lain (kegiatan sosial)
  • Minat pada peristiwa-peristiwa dunia
  • Minat pada kritik dan pembaruan (perubahan, inovasi, kreativitas)
  • Minat pada kegiatan minuman keras
  • Minat pada kegiatan obat-obatan terlarang

Disamping minat-minat umum itu, Elizabeth Hurlock (1997) juga menambahkan lagi klasifikasi minat-minat remaja sebagai berikut

  • Minat-minat pribadi (penampilan diri, pakaian/mode/fashion, prestasi, kemandirian, uang).
  • Minat pendidikan
  • Minat pekerjaan
  • Minat agama
  • Minat pada simbol status

BAHAYA-BAHAYA YANG MENGANCAM REMAJA

Perilaku-perilaku remaja yang didorong oleh kebelumatangan emosional dan pengaruh lingkungan sosialnya bisa membahayakan. Misalnya keterlibatan remaja dalam geng yang jahat bisa berakibat fatal, misalnya kehancuran fisik-jiwa karena narkoba. Bahkan remaja bisa terluka dan terbunuh karena kenakalannya, misalnya.

Menurut riset, bunuh diri merupakan penyebab kedua dari kematian remaja di Amerika Serikat pada periode 1958-1975 (Hurlock, 1997, hal 236). Hal itu menunjukkan betapa rentannya kehidupan para remaja.

KRISIS REMAJA

Inilah yang terjadi di Amerika Serikat SETIAP HARI (menurut data majalah Fortune edisi 10 Agustus 1992 sebagaimana dikutip Josh McDowell (1996, hal 2)

  • 1.000 remaja putri yang belum dewasa menjadi ibu
  • 1.106 remaja putri melakukan aborsi
  • 4.219 remaja terjangkit penyakit seksual menular
  • 500 remaja mulai memakai obat-obatan terlarang
  • 1.000 remaja mulai minum alkohol (miras)
  • 135.000 anak-anak dan remaja membawa senjata tajam ke sekolah
  • 3.610 remaja dilukai; 80 di antaranya diperkosa
  • 2.200 remaja drop out dari sekolah
  • 2.750 remaja melihat orangtua mereka bercerai
  • 7 anak dan remaja terbunuh
  • 6 remaja melakukan bunuh diri

Distrik

Di bawah pimpinan Sinode terdapat para Praeses yang mengepalai tiap Distrik atau wilayah pelayanan GKPS. Dalam sejarahnya saat HKBP Distrik Simalungun berubah menjadi HKBP Simalungun (cikal bakal GKPS), pelayanan gereja ini dibagi ke dalam 3 distrik, yaitu:[44]

  1. Huluan, berpusat di Saribudolog.
  2. Tonga-tonga, berpusat di Pamatang Raya.
  3. Kahean, berpusat di Tebing tinggi (kemudian dipindahkan ke Medan).

Selanjutnya GKPS membagi wilayah pelayanannya ke dalam 4 distrik (I sampai IV), namun sejalan dengan perkembangan pelayanan, sejak 10 Juni 2000[13] jumlahnya dikembangkan menjadi 7 distrik.[45]

Setiap Distrik terdiri atas beberapa Resort, dan tiap Resort terdiri atas beberapa Gereja. Jumlah Resort keseluruhannya ada 106 buah, dengan 614 jemaat (gereja). Total keseluruhan anggota GKPS adalah sekitar 210.599 orang.(2007)[46]

Distrik I

Berkedudukan di Pematang Siantar, terdiri atas 22 resort, yang menaungi 132 jemaat. Dipimpin oleh Pdt. Roeslend Munthe, STh (2005-2010).

Distrik II

Berkedudukan di Pematang Raya, terdiri atas 14 resort, yang menaungi 87 jemaat. Dipimpin oleh Pdt. Abdi Jekri Damanik, MSi (2005-2010).

Distrik III

Berkedudukan di Saribudolok, terdiri atas 20 resort, yang menaungi 119 jemaat. Dipimpin oleh Pdt. Jameldin Sipayung, STh (2005-2010).

Distrik IV

Berkedudukan di Medan, terdiri atas 15 resort, yang menaungi 89 jemaat. Dipimpin oleh:

  • Pdt. Jatalim Sitopu, STh (2005- 11 Juli 2009).[47].
  • Pdt. Pendi Jasmen Sinaga, STh (11 Juli 2010 - 2010).[48][49]

Distrik V

Berkedudukan di Tebing Tinggi, terdiri atas 17 resort, yang menaungi 99 jemaat. Dipimpin oleh Pdt. El Imanson Sumbayak, MTh (2005-2010).

Distrik VI

Berkedudukan di Pekanbaru, terdiri atas 7 resort, yang menaungi 41 jemaat. Dipimpin oleh Pdt. Hot Imanson Sinaga, STh (2005-2010).

Distrik VII

Berkedudukan di Jakarta, terdiri atas 11 resort, yang menaungi 47 jemaat. Dipimpin oleh:

  • Pdt. Jacelsius Purba, STh (2005 - 27 Juni 2009).
  • Pdt. Enida Girsang (27 Juni 2009 - 2010).

Pelayanan GKPS

Dalam menjalankan pelayanannya, GKPS mendirikan beberapa lembaga yang melayani masyarakat dalam berbagai bidang. Lembaga-lembaga tersebut yaitu:

Badan Kesehatan GKPS

Terdapat 2 rumah sakit yang dikelola oleh GKPS, yaitu:

Berlokasi di Jalan Sutomo, Saribudolok, yang didirikan pada tanggal 15 September 1953[52]
  • R.S. GKPS Pematang Raya
Berlokasi di Jalan Pendeta J. Wismar Saragih, Pematang Raya[52]

Badan Pendidikan GKPS

GKPS pertama mendirikan pusat pendidikannya di Sondi Raya pada tanggal 6 September 1964.[13] Kini Badan Pendidikan GKPS mengelola beberapa asrama dan sekolah GKPS. Sekolah GKPS terdiri dari TK, SD, SMA dan SMK.

Pelayanan Pembangunan (Pelpem) GKPS

Didirikan pertama kali pada 15 Januari 1965 dengan nama Pusat Latihan Pertanian GKPS.[13] Kini Pelpem mengelola berbagai perkebunan dan lahan pertanian dan memberikan bantuan mengenai cara bertani/berkebun bagi masyarakat.

Bumi Keselamatan Margaretha

Adalah sebuah panti asuhan bagi anak-anak Yatim/Piatu dan terlantar. Berlokasi di daerah Marihat, Pematang Siantar dan didirikan atas donasi dana dari seorang Bapak atas wasiat dari istrinya (Ibu Margaretha) yang namanya kemudian diabadikan sebagai nama Panti Asuhan tersebut.


Logo GKPS

Penetapan Logo GKPS

Logo GKPS ditetapkan oleh Synode Bolon GKPS yang ke 32 di Parapat pada tanggal 4-8 Juli 1994.

Makna logo GKPS

  • Logo adalah huruf atau lambang yang mengandung atau makna, sebagai lambang.
  • Logo GKPS adalah melambangkan makna pewujudan GKPS sebagai bagian yang utuh dan tak terpisahkan dari gereja yang Esa, Kudus, Am/Katolik dan Rasuli di seluruh dunia, yang terpanggil dan disuruh untuk bersekutu, bersaksi dan melayani.

Huruf dan lambang logo GKPS

  1. Dalam Logo GKPS ada tiga hal yang dinampakkan
    1. Salib : Melambangkan pengakuan GKPS bahwa Yesus Kristus adalah Juru Selamat Dunia dan Kepala Gereja, Kebenaran dan Hidup, yang menghimpun dan menumbuhkan gereja sesuai dengan Firman Tuhan.
    2. Daun Sirih : Dua lembar daun sirih menghadap ke Salib melambangkan persekutuan yang sama-sama menyembah kepada Yesus Kristus. Daun sirih juga melambangkan tradisi masyarakat Simalungun dalam persekutuan dan kebersamaan yang saling melayani / menghormati dalam kedamaian demi kesejahteraan.
    3. Tulisan/huruf: Gereja Kristen Protestan Simalungun - GKPS - yang melingkar Salib dan Sirih, melambangkan kehadiran Injil di Simalungun mengantar Simalungun dari kegelapan kepada Terang Allah dan menemukan dalam gereja di Indonesia, yakni Gereja Kristen Protestan Simalungun.
  2. Logo GKPS menggunakan 3 (tiga) warna yaitu:
    1. Warna Putih: Adalah warna dasar. Warna melambangkan kesucian.
    2. Warna Biru : Adalah warna untuk Salib dan tulisan GEREJA KRISTEN PROTESTAN SIMALUNGUN - GKPS -. Warna biru melambangkan kesetiaan.
    3. Warna Hijau : Adalah warna untuk Daun Sirih, merupakan warna asli daun sirih. Warna - hijau melambangkan perdamaian


Kantor Pusat

Kantor Pusat GKPS di Jalan Pendeta J. Wismar Saragih, beroperasi sejak 2 Maret 1992.

Behubungan dengan lokasi Kantor Pusat GKPS yang ada di Jl. Sudirman, Pematang Siantar, sangat sempit dan suasana Kantor tersebut yang berketepatan dekat dengan jalan raya sehingga para pegawai sulit dalam berkonsentrasi pada pekerjaannya, maka mulai tanggal 4 September 1988 dimulai pengembangan Kantor Pusat GKPS Pematang Siantar.[13] Kantor pusat GKPS berpindah ke secara resmi ke Jl. Pdt. J. Wismar Saragih pada tanggal 2 Maret 1992.[13]

[sunting] Pimpinan dan Organisasi Pusat GKPS

[sunting] Pimpinan Pusat

Sesuai Peraturan Rumah Tangga GKPS, pimpinan pusat terdiri atas Ephorus dan Sekretaris Jendral.[36] Pimpinan GKPS berada di tangan seorang Ephorus yang didampingi oleh seorang Sekretaris Jenderal.

Pada masa peralihan dari HKBP distrik Simalungun menjadi HKBP Simalungun (HKBPS), HKBPS tidak memiliki seorang Ephorus. Jabatan tertinggi saat itu adalah seorang Wakil Ephorus, yang didampingi oleh seorang Sekretaris Jendral.[37]

Untuk periode 2005-2010, Ephorus GKPS adalah Pdt. Belman Purba Dasuha, STh dan Sekjennya Pdt. M. Rumanja Purba, MSi.

[sunting] Daftar Ephorus GKPS

No. Nama Dari Sampai Keterangan
1. Pdt. Jenus Purba Siboro 1 Sept 1963 1965
2. Pdt. Jenus Purba Siboro 1965 1970
3. Pdt. Lesman Purba 1970 1972 Seharusnya sampai 1975, tetapi meninggal dunia di Budapest pada tahun 1972
4. Pdt. Samuel Purba Dasuha 1972 1975 Terpilih dalam Synode Bolon Istimewa, 1 Juli 1972[38]
5. Pdt. Samuel Purba Dasuha 1975 1977 Seharusnya 1975-1980, tetapi meninggal dunia pada tahun 1977
6. Pdt. Dr.(HC) Armencius Munthe, MTh. 1977 1980
7. Pdt. Dr.(HC) Armencius Munthe, MTh. 1980 1985
8. Pdt. Dr.(HC) Armencius Munthe, MTh. 1985 1990
9. Pdt. Jasiman Damanik 1990 1995
10. Pdt. Jasiman Damanik 1995 2000
11. Pdt. Dr. Edison Munthe, MTh 2000 2005
12. Pdt. Belman Purba Dasuha, STh[39] 2005 2010
Daftar Wakil Ephorus GKPS
  1. Pdt. Djaulung Wismar SaragihMenjabat saat HKBPS dibentuk


Daftar Sekretaris Jenderal GKPS

No. Nama Dari Sampai Keterangan
1. Pdt. A. Wilmar Saragih 5 Oktober 1952 1963 Menjabat sejak saat HKBPS dibentuk
2. Pdt. Lesman Purba 1 Sept 1963 1965 Ditetapkan saat HKBPS menjadi GKPS
3. Pdt. Lesman Purba 1965 1970
4. Pdt. Dr.(HC) Armencius Munthe, MTh.[41][42] 1970 1975
5. Pdt. Dr.(HC) Armencius Munthe, MTh. 1975 1977
6. Pdt. Hamonangan Girsang 1977 1980
7. Pdt. Hamonangan Girsang 1980 1985
8. Pdt. Hamonangan Girsang 1985 1990
9. Pdt. Dr. (HC)Armencius Munthe, MTh. 1990 1995
10. Pdt. Sahala A. Girsang 1995 2000
11. Pdt. M. Rumanja Purba, MSi. 2000 2005
12. Pdt. M. Rumanja Purba, MSi.[43] 2005 2010


Organisasi

Di dalam pekerjaan sehari-hari, pimpinan Sinode GKPS dibantu oleh Departemen-departemen, yaitu:

  • Departemen Persekutuan
  • Departemen Kesaksian
  • Departemen Pelayanan

Selain itu ada pula Biro yang menangani urusan administrasi Gereja, yaitu:

  • Biro Keuangan
  • Biro Usaha

Terdapat dua buah badan yang setingkat dengan Biro, yaitu:

  • Badan Penelitian dan Pengembangan
  • Satuan Pengawasan Internal

Kemandirian GKPS

HKBP di Simalungun

Pada tahun 1929 dibentuk badan pengurus sinode HKBP yang anggotanya berasal dari wakil tiap distrik HKBP yang mewakili etnis penghuni distrik tersebut. Namun karena hingga tahun 1933 Simalungun tidak memiliki wakil dalam badan ini, Sinode Distrik Simalungun-Pesisir Timur mengajukan tuntutan agar suku Simalungun memiliki wakil dalam badan pengurus sinode HKBP agar dapat lebih mengetahui dan mewakili daerah asalnya. Selanjutnya Djaoedin Saragih (Pangulubalei -pejabat kerajaan, abang dari Dj. Wismar Saragih) juga mengirimkan surat pada Ephorus HKBP, Landgrebe, yang menekankan perlunya terpelihara identitas etnis dan budaya Simalungun dalam lingkungan gereja. Tuntutan ini tidak dipenuhi dengan dipilihnya J. Hutapea dari HKBP Pematang Siantar sebagai wakil Distrik Simalungun-Pesisir Timur.

Seiring semakin tingginya populasi Kristen-Simalungun di Pematang Siantar, Djaoedin Saragih juga menuntut agar diadakan kebaktian khusus berbahasa Simalungun, yang dikabulkan RMG dengan diadakannya kebaktian tersendiri di gedung sekolah Jl. Toba No. 35, dilayani oleh Gr. Djahia Simandjuntak atau Pasman Panggabean yang memahami bahasa Simalungun. Ibadah ini berlangsung hingga terhenti pada tahun 1941 karena kedatangan tentara penjajahan Jepang.

HKBP Distrik Simalungun

Seiring dengan meluasnya daerah tujuan imigrasi suku Toba hingga ke Dairi dan Aceh, tata gereja HKBP tahun 1940 mengubah nama distrik Simalungun-Pesisir Timur (Simalungun-Oostkust) menjadi "Sumatera Timur, Aceh dan Dairi." Perubahan nama ini sebenarnya sudah diprotes oleh J. Wismar Saragih dalam suratnya tanggal 27 Oktober 1937 ke penginjil H. Volmer di Saribudolog, tetapi Tata Gereja tersebut tetap disahkan.

Keberatan yang secara berkelanjutan diajukan oleh komunitas Kristen-Simalungun akhirnya membuahkan hasil ketika Sinode am HKBP yang diadakan pada tanggal 10-11 Juli 1940 di Pearaja membicarakan keberatan mereka dan memutuskan agar Kerkbestuur HKBP membicarakan hal tersebut dengan jemaat Simalungun. Pembicaraan tersebut kemudian diadakan di Raya, Saribudolog dan Nagoridolog pada tanggal 26 September 1940 dan memutuskan agar komunitas Simalungun diberi satu distrik tersendiri bernama Distrik Simalungun dengan wakil orang Simalungun di sinode HKBP. Pada tanggal 22 Oktober 1940 Pdt. J.V. Mulywijk dari Kabanjahe dipilih menjadi Praeses pertama, yang kemudian digantikan oleh Pdt. Kerpianus Purba (Pendeta HKBP Nagoridolog) sampai tahun 1952.

HKBP Simalungun

Pada tanggal 5 Oktober 1952 anggota Sinode Distrik Simalungun bersidang agar Simalungun berdiri sendiri dan terpisah dari HKBP, serta mengangkat pengurus harian dan majelis Gereja di HKBPS. Pemisahan ini dilakukan secara sepihak oleh HKBP distrik Simalungun, dan baru diakui oleh wakil-wakil HKBP pada rapat bersama antara delegasi HKBP dan Pengurus Harian HKBP Simalungun tentang pandjaeon (pemisahan) HKBP Simalungun di Pematang Siantar, 21-22 Januari 1953 yang keputusannya ditandatangani pada tanggal 22 Januari 1953. Pihak-pihak yang hadir pada rapat itu adalah:

  1. Pdt. J. Wismar Saragih (HKBP Simalungun).
  2. Pdt. A. Wilmar Saragih (HKBP Simalungun).
  3. Pdt. Kerpianus Purba (HKBP Simalungun).
  4. Ds. K. Sitompul (HKBP).
  5. Pdt. K. Sirait (HKBP).
  6. Pdt. J. Togatorop (HKBP).
  7. Pdt. M. L. Siagian (HKBP).
  8. Pdt. C. Simanjuntak (HKBP).

Untuk memudahkan urusan Gereja ini pada 30 November 1952 HKBPS dibagi menjadi tiga Distrik dan Kantor pusat GKPS didirikan di Pematang Siantar. Kantor pusat bermula menumpang dalam satu rumah sewa di Jl. Pantuan Nagari Martoba, Pematang Siantar. Setelah mendapat sebidang tanah di Jl. Sudirman maka Kantor pusat HKBPS berdiri sendiri (20 September 1955).

HKBP Simalungun menjadi GKPS

Pada tanggal 1 September 1963 HKBP Simalungun resmi berganti nama dengan GKPS. Surat resminya ditandatangani Pdt. G.H.M. Siahaan (wakil HKBP) dan Pdt. Jenus Purba Siboro (mewakili HKBPS) di HKBPS Jalan Sudirman Pematang-siantar. Setahun setelah itu didirikan pusat pendidikan GKPS di Pematang Raya dan pembangunan Asrama Putra dan Putri dan tahun 1964 itu juga GKPS menjadi anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).

Kerjasama Internasional

Pada tanggal 15 Januari 1964 GKPS mendirikan pusat pelatihan pertanian di Pematang Siantar (PELPEM GKPS) dan satu tahun kemudian GKPS menjadi anggota wilayah PGI-Wilayah SUMUT serta menjalin kerja sama dengan gereja-gereja Lutheran lain, seperti Evangelical Lutheran Church in America (ELCA, sejak 1969) dan Lutheran Church of Australia (LCA, sejak September 1973[16]). GKPS juga menjadi anggota beberapa organisasi gereja di tingkat dunia dan regional, seperti Dewan Gereja-gereja se-Dunia (WCC, sejak Agustus 1973), Dewan Gereja-gereja Asia (CCA, 31 Mei 1977)[34] dan Federasi Lutheran se-Dunia (LWF, sejak 1968). Karena semakin berkembangnya jemaat GKPS didirikanlah Kantor pusat/kursus Zentrum GKPS dan mulai menjalin kerja sama dengan Gereja Mulheim Jerman.

Mitra-mitra GKPS lainnya di luar negeri adalah: UEM (United Evangelical Mission, sejak Juni 1996]), EZE (Evangelische Zentralstelle für Entwicklunghilfe), Brot für die Welt, Kirchenkreis Hagen, Kirchenkreis Solingen, Kirche di Hachenburg, Dekanat Bad Marienberg, dan Gereja Mulheim (25 November 1980) yang semuanya berada di Jerman.

Pekabaran Injil oleh Orang Simalungun

Jubileum 25 Tahun Injil di Simalungun: Comite Na Ra Marpodah Simalungun

Pada 1 September 1928 di Pematang Raya diadakan pesta peringatan 25 tahun pemberitaan injil di Simalungun. Momen ini dijadikan tonggak untuk meningkatkan pengabaran Injil di Simalungun. Sebagai salah satu caranya adalah dengan melakukan pengabaran Injil menggunakan pengantar bahasa Simalungun, bukan bahasa Toba yang digunakan oleh para Misionaris RMG. Beberapa Guru dan Sintua bersepakat untuk membentuk sebuah komite bernama Comite Na Ra Marpodah Simalungun yang bekerja untuk membuat Agenda Gereja, buku nyanyian "Haleluya", dan Alkitab dalam bahasa Simalungun (yang diterbitkan pertamakali pada 16 Januari 1977) dilengkapi dengan sebuah buku renungan harian "Manna."

Rintisan pendirian lembaga ini diadakan pada tanggal 13 Oktober 1928 dalam suatu pertemuan di rumah Djaoedin Saragih di Pematang Raya yang dihadiri oleh 14 tokoh-tokoh Kristen Simalungun.[17] Dalam pertemuan inilah disepakati pendirian badan yang memiliki tujuan untuk melestarikan dan memberdayakan bahasa Simalungun dengan nama di atas. 12 dari 14 tokoh yang menghadiri pertemuan tersebut adalah:

Pendeta Djaulung Wismar Saragih, suku Simalungun pertama yang menjadi pendeta, tokoh perintis kemandirian GKPS.
  1. Djaulung Wismar Saragih Sumbayak, kandidat Pendeta dari Sipoholon, Redaktur.
  2. Jason Saragih, Guru Zending dari Raya Tongah, Voorziter Ihoetan.
  3. Jacoboes Sinaga, Krani Tiga Raya dari Pematang Raya, Secretaris/Peeningmeester.
  4. Djaoedin Saragih, Pangoeloebalei Raja dari Pematang Raya, Commissaris.
  5. Djotti Saragih, Parbapaan dari Raya Usang, Commissaris.
  6. Bendjamin Damanik, Sintoea dari Pematang Raya, Commissaris.
  7. Augustin Sinaga, Guru Zending dari Dalig Raya, Commissaris.
  8. Djainoes Saragih, Guru Zending dari Raya Usang, Commissaris.
  9. Kenan Saragih, Guru Zending dari Jandi Mauli, Commissaris.
  10. Lamsana Saragih, Guru Zending dari Huta Baru, Commissaris.
  11. Kilderik Saragih, Guru Zending dari Pematang Raya, Commissaris.
  12. Djonas Purba Girsang, Guru Zending dari Sondi Raya, Commissaris.

Secara resmi 3 tujuan dari lembaga ini yaitu:didasari pada Alkitab, I Pet 2:17

  1. Mengasihi sesama manusia (mangkaholongi hasoman jolma).
  2. Takut pada Tuhan (pengkabiari Naibata).
  3. Menghormati Raja/Pemerintah (pasangapkon Raja).

Dj. Wismar Saragih menerangkan bahwa penggunaan kata "Comite" memiliki makna bahwa organisasi ini bersifat nirlaba. "Na Ra Marpodah" bermakna bahwa tiap pengurus/anggota memiliki rasa tanggungjawab dan kewajiban untuk mendukung kelangsungan comite dengan kontribusi dana, pengetahuan dan lain-lain secara sukarela demi kemajuan orang Simalungun baik dalam kekristenan maupun pendidikan. Anggaran Dasar lembaga ini disahkan oleh asisten Resident G.W. Meindersma pada tanggal 5 Februari 1929. Tanggal 2 September 1928 ditetapkan sebagai hari kelahiran comite.

Dukungan terhadap Comite ini antara lain terwujud dalam bentuk bantuan dana dari pemerintah swapraja Simalungun melalui landschapskas Simaloengoen sebesar 300 gulden, dari rakyat, pengusaha dan pegawai pemerintah melalui taken-list, dari Raja-raja Simalungun sebesar 400 gulden, dan dari penyelidik bahasa Simalungun (taalambtenaar, ditugaskan oleh pemerintah Belanda atas permintaan raja-raja Simalungun), P. Voorhoeve, sebesar 5 gulden tiap tahunnya.

Akhirnya pada tanggal 15 Desember 1929 ditahbiskanlah seorang Pendeta yang pertama dari suku Simalungun yaitu Pdt. Djaulung Wismar Saragih, yang tetap memperkuat perjuangan Comite ini.

Perjuangan Comite untuk menggunakan bahasa Simalungun sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah zending di seluruh daerah yang didiami suku Simalungun mengalami banyak tantangan, terutama karena derasnya arus imigrasi suku Toba ke Simalungun sehingga domisili suku Simalungun semakin terbatas. J. Warneck menjelaskan pada suratnya ke Raja-raja Simalungun bahwa tuntutan tersebut juga sulit dipenuhi karena terbatasnya jumlah pengajar yang mengerti bahasa Simalungun dan rendahnya minat orang Simalungun untuk masuk ke sekolah guru yang telah dibuka sejak 1931 di Pematang Siantar.[24] Tetapi gencarnya tuntutan Comite Na Ra Marpodah Simalungun ini, disertai dengan usaha mereka dalam menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku pelajaran berbahasa Simalungun memaksa RMG untuk menyesuaikan pelayananannya dengan menggunakan bahasa Simalungun.

Kongsi Laita

Kesuksesan Comite Na Ra Marpodah Simalungun dalam meningkatkan penyebaran Injil bagi orang Simalungun dengan digunakannya penggunaan bahasa Simalungun sebagai bahasa pengantar, turut menumbuhkan semangat seluruh orang Kristen Simalungun di berbagai daerah untuk turut menyebarkan Injil, dan untuk itu diperlukan komunitas yang terorganisir.

Seusai kebaktian minggu pada tanggal 15 November 1931, beberapa orang Kristen-Simalungun dari Sondi Raya sepakat untuk mengadakan rapat di rumah Gomar Saragih untuk membentuk suatu organisasi pekabaran Injil. Malam itu juga didirikanlah Kongsi Laita dengan susunan kepengurusan:

  • Ketua: Guru Williamar Sumbayak
  • Sekretaris/Bendahara: St. Parmenas Purba Tambak
  • Komisaris:
    • St. Jonas Purba
    • Melanthon Saragih
    • Mailam Purba

Selanjutnya pekan kelahiran Kongsi Laita ini diperingati sebagai "Minggu Bapa," di mana seluruh pelayanan di Gereja pada hari Minggu itu ditangani oleh anggota Seksi Bapa. Nama Kongsi Laita juga diabadikan sebagai nama salah satu GKPS di Sondi Raya.

Parguru Saksi Kristus

Pada tahun 1938 diadakan Fonds Saksi Kristus atau yang sering dikenal orang Simalungun sebagai Parguru Saksi Kristus. Gerakan ini bertujuan untuk memperkenalkan Injil dari rumah ke rumah, dan umumnya dijalankan oleh anggota jemaat dari kalangan pemuda. Parguru Saksi Kristus sangat efektif dalam menghadapi larangan berkumpul yang diterbitkan pemerintahan penjajahan Jepang selama menduduki Indonesia.